Senin, 07 Desember 2009

orang hebat aja pake mind map


sejarahLeonardo Da Vinci

Leonardo Da Vinci menggunakan gambar, diagram, simbol, dan ilustrasi sebagai cara termurni untuk menangkap pikiran-pikiran yang bermunculan di otaknya dan mencurahkannya ke kertas. Karena ungkapan-ungkapan kreatif jenius yang terkandung di dalamnya, buku-buku catatan Leonardo merupakan buku-buku paling berharga di dunia, dan yang terpenting dari buku-buku ini adalah gambar-gambarnya. Gambar-gambar ini membantu Leonardo menjelajah pikirannya dalam berbagai bidang, seni, ilmu faal, permesinan, akuanautik, dan biologi.

Bagi Leonardo, bahasa kata-kata berada di tempat kedua sesudah bahasa gambar dan digunakan untuk memberi label, menunjukkan, atau menjelaskan pikiran dan penemuan kreatifnya. Alat utama untuk pemikiran kreatifnya adalah bahasa gambar.

Galileo Galilei

Galileo adalah seorang pemikir kreatif jenius dunia, yang di akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17, membantu merevolusi ilmu dengan menggunakan teknik pencatatannya sendiri. Sementara rekan-rekan semasanya menggunakan pendekatan verbal dan matematikal tradisional untuk menganalisis masalah-masalah ilmiah, Galileo menjadikan pikirannya kasatmata melalui ilustrasi diagram.

Richard Feynman

Richard Feynman, fisikawan pemenang hadiah nobel, ketika masih muda menyadari bahwa imajinasi dan visualisasi adalah bagian terpenting dari proses pemikiran kreatif. Dengan begitu ia memainkan permainan-permainan imajinasi dan belajar menggambar.

Seperti Galileo, Feynman tidak meniru rekan-rekannya yang melakukan pencatatan yang lebih tradisional, dan memutuskan menempatkan seluruh teori kuantum elektrodinamik ke bentuk visual dan diagramatik yang baru. Hal ini menjurus ke pengembangan diagram Feynman yang sekarang terkenal, yaitu representasi gambar dari interaksi partikel, yang sekarang digunakan murid seluruh dunia untuk membantu mereka memahami, mengingat, dan menciptakan ide-ide dalam realisme fisika dan ilmu umum.

Albert Einstein

Albert Einstein, jenius abad ke-20, juga menolak bentuk-bentuk linier, numerik, dan verbal pemikiran kreatif. Seperti Leonardo dan Galileo sebelum dirinya, Einstein percaya bahwa alat-alat ini berguna tetapi tidak perlu, dan yang jauh lebih penting adalah imajinasi. Einstein juga menyatakan bahwa, “Imajinasi lebih penting daripada pengetahuan karena imajinasi tidak terbatas.”

Sumber: http://ksupointer.com/2009/para-pembuat-mind-map-dalam-sejarah
»»  Baca selengkapnya...

Minggu, 06 Desember 2009

Menemukan Keasyikan Belajar Sesuai dengan Gaya Belajar Masing-Masing

Saya pernah merasa sangat bosan berada di dalam kelas padahal saat itu diskusi kelompok sedang berlangsung. Saya merasa tidak mendapatkan apa-apa dari diskusi itu yang saya rasakan hanyalah kebosanan dan yang terpikirkan oleh saya saat itu hanyalah “kapan jam pelajaran ini akan berakhir?”
Kejadian seperti ini mungkin juga pernah dialami oleh teman-teman, dimana kita merasa belajar menjadi sangat membosankan sehingga tidak tertarik sama sekali dengan apa yang sedang di diskusikan walau sebenarnya materi yang sedang didiskusikan adalah sebuah topic yang sangat menarik untuk di bahas. Namun rasa jenuh yang lebih mendominasi sehingga kemenarikkan sebuah materi menjadi tidak kelihatan.
Menurut Michael Griender manusia mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda. Ia mengelompokkan gaya belajar menjadi tiga bagian besar yaitu gaya visual, auditorial, dan kinestetik. Ketiga gaya ini tidak mutlak dimiliki oleh seseorang tapi setidaknya ia mempunyai kecendrungan pada salah satunya yang dapat membantu seseorang untuk menciptakan suasana yang menyenangkan ketika belajar.

Gaya visual
Orang yang mempunyai kecendrungan gaya visual akan lebih suka belajar dengan melihat. Mereka cendrung bisa mengingat hal-hal apa yang dia lihat bukan apa-apa yang di dengarnya. Orang dengan gaya visual ini mempunyai cirri-ciri sebagai berikut:
• betah berjam-jam menyerap informasi dari buku atau benda-benda yang dilihatnya.
• Suka berbicara dengan cepat dan meletakkan benda-benda dengan rapi dan teratur.
• Lebih suka membaca sendiri daripada dibacakan
• Suka mencoret-coret ketika berbicara di telpon

Gaya auditorial
Berbeda halnya dengan si visual yang lebih sering menggunakan penglihatannya, si auditorial lebih mengandalkan penderannya. Orang yang mempunyai gaya audiotorial ini mempunyai cirri-ciri sebagai berikut:
• Mendengarkan dengan seksama penjelasan guru
• Membaca buku keras-keras saat mau ujian bahkan berteriak-teriak untuk menghapal pelajaran, bahkan minta bantuan orang lain untuk membacakan buku yang sedang dipelajarinya dengan keras-keras.
• Suka mendengarkan musik. Berkenaan dengan musik, ada dua kebiasaan tipe auditorial dalam hal menghapal. Tipe pertama adalah tipe auditorial, tipe ini ketika belajar harus ditemani musik. Kedua adalah tipe auditorial yang akan segera mengepi dan jauh dari yang namanya musik ketika sedang menghapal pelajaran.
• Biasanya piawai dalam menuturkan jalannya cerita, mereka juga pasih dalam mengingat informasi bahasa yang mereka tangkap saat mendengar.

Gaya kinestetik
Orang dengan gaya kinestetik ini biasanya adalah orang yang paling banyak membuat ulah.
• Dia paling cepat bosan kalau belajar hanya menggunakan tulisan dan mensengar saja.
• Biasanaya malas mencatat pelajaran.
• Tidak tahan untuk berdiam lama-lama. Mereka sanagt piawai dalam. menggunakan isyarat tubuh dalam menyerap informasi.

Nah dari ketiga gaya belajar diatas, kamu termasuk gaya belajar yang mana? Masing bingung?
Menurut Bobbi de Porter dan Mike Hernacki gaya belajar seseorang dapat dikenali dari cara kita merespons buku atau daftar petunjuk mengenai barang yang baru kita beli.
 Baru mengerti dengan membaca buku petunjuk terlebih dahulu, berarti termasuk orang-orang yang mempunyai gaya belajar visual.
 Baru mengerti cara penggunaan barang tersebut setelah mendapatkan penjelasan dari orang lain, berarti masuk kegolongan gaya auditorial.
 Baru paham mengenai penggunaannya setelah mengutak atiknya terlebih dahulu, berarti termasuk orang yang mempunyai gaya kinestetik.

Dari penjelasan tentang ketiga gaya belajar ini dapat dipastikan bahwa saya termasuk orang yang mempunyai gaya belajar Visual dan kinestetik. Sehingga wajar saja saya menjadi cepat bosan ketika dalam penyampaian materi pelajaran hanya dengan cara diskusi. Ga nyambung dengan kecendrungan gaya belajar yang ada pada diri saya.

Guru terkadang kurang memperhatikan hal ini sehingga banyak siswa yang tidak lagi focus mensengarkan pelajaran yang disampaikan oleh guru. Akaibatnya penjelasan yang disampaikan panjang leber tidak dapat diserap dengan baik oleh siswa.untuk itu pemahan tentang gaya belajar siswa ini dirasa perlu untuk dipahami oleh setiap guru dan dapat diaplikasikan dalam kegitan belajar mengajar.

Dari pemaparan gaya belajar tadi hendaknya dapat menjadi rujukan guru agar dapat menyajikan pelajaran yang lebih kreatif sehingga pelajaran itu dapat dengan mudah diterima oleh siswa baik itu siswa dengan gaya belajar visual, audiotorial dan kinestetik karena selama ini kegiatan belajar mengajar di kelas lebih di dominasi untuk siswa dengan gaya belajar visual dan audiotorial sedangkan gaya belajar untuk siswa-siswa yang kinestetik masih terkesampingkan.
»»  Baca selengkapnya...

Metode Peta Pikiran (Mind Mapping) Untuk Keberhasilan Siswa

Seorang ahli pengembangan potensi manusia asal Inggris, Tony Buzan,pada tahun 1960-an berhasil menemukan metode pemetaan pikiran yang melibatkan kedua sisi otak secara bersamaan, yaitu otak kanan dan otak kiri. Metode ini disebut dengan istilah Mind map yang merupakan teknik inovatif yang dapat membantu mebuka seluruh potensi dan kapasitas otak yang tesembunyi. Dalam metode ini otak tetap digunakan bekerja secara alami.

Konsep ini didasarkan pada cara kerja otak kita menyimpan informasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otak kita tidak menyimpan informasi dalam kotak-kotak sel saraf yang terjejer rapi melainkan dikumpulkan pada sel-sel saraf yang berbercabang-cabang yang apabila dilihat sekilas akan tampak seperti cabang-cabang pohon.

Dalam proses belajar siswa mendapatkan pertambahan materi berupa informasi mengenai teori, gejala, fakta ataupun kejadian-kejadian. Informasi yang diperoleh akan diolah oleh siswa. Proses pengolahan informasi melibatkan kerja sistem otak, sehingga informasi yang diperoleh dan telah diolah akan menjadi suatu ingatan.
Mencatat merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan daya ingat. Otak manusia dapat menyimpan segala sesuatu yang dilihat, didengar dan dirasakan. Tujuan pencatatan adalah membantu mengingat informasi yang tersimpan dalam memori tanpa mencatat dan mengulangi informasi, siswa hanya mampu mengingat sebagian kecil materi yang diajarkan.

Umumnya siswa membuat catatan tradisional dalam bentuk tulisan linier panjang yang mencakup seluruh isi materi pelajaran, sehingga catatan terlihat sangat monoton dan membosankan. Umumnya catatan monoton akan menghilangkan topik-topik utama yang penting dari materi pelajaran.

Otak tidak dapat langsung mengolah nformasi menjadi bentuk rapi dan teratur melainkan harus mencari, memilih, merumuskan dan merangkainya dalam gambar-gambar, simbol-simbol, suara, citra, bunyi dan perasaan sehingga informasi yang keluar satu persatu dihubungkan oleh logika, diatur oleh bahasa dan menghasilkan arti yang dipahami. Teknik mencatat dapat terbagi menjadi dua bagian. Pertama catat, tulis, susun (CTS), yaitu teknik mencatat yang mampu mensinergiskan kerja otak kiri dengan otak kanan, sehingga konsentrasi belajar dapat meningkat sepuluh kali lipat. Catat , tulis , susun , menghubungkan apa yang didengaran menjadi poin-poin utama dan menuliskan pemkiran dan kesan dari materi pelajaran yang telah dipelajari (Bobbi de Portyer dan Hernacki, 1999: 152).

Teknik mencatat kedua, pemetaan pikiran (mind mapping), yaitu cara yang paling mudah untuk memasuk informasi kedalam otak dan untuk kembali mengambil informasi dari dalam otak. Peta pemikiran merupakan teknik yang paling baik dalam membantu proses berfikir otak secara teratur karena menggunakan teknik grafis yang bearsal dari pemkiran manusia yang bermanfaat untuk menyediakan kunci-kunci universal sehingga membuka potensi tak (Tonny dan Bary Buzan, 2004: 68).
Mind merupakan gagasan berbagai imajinasi. Mind merupakan suatu keadaan yang timbul bila otak (brain) hidup da sedang bekerja (Taufik Bahaudin, 1999: 53). Lebih lanjut Bobbi de Porter dan Hernacki (199: 152) menjelaskan, peta pikiran merupakan teknik pemanfaatan keseluruhan otak dengan menggunakan citra visual dan prasarana grafis lainnya untuk membentuk suatu kesan yang lebih dalam.
Peta pikiran adalah teknik meringkas bahan yang akan dipelajari dan memproyeksikan masalah yang dihadapi ke dalam bentuk peta atau teknik grafik sehingga lebih mudah memahaminya Iwan Sugiarto, 2004:75).

Pemetaan pikiran merupakan teknik visualisasi verbal ke dalam gambar. Peta pikiran sangat bermanfaat untuk memahami materi, terutama materi yang diberikan secara verbal. Peta pikiran bertujuan membuat materi pelajaran terpola secara visual dan grafis yang akhirnya dapat membantu merekam, memnperkuat, dan mengingat kemabli informasi yang telah dipelajari (Eric Jensen, 2002: 95).

Perbedaan Catatan Biasa dan Mind Maping
CATATAN BIASA
1. Hanya berupa tulisan saja
2. Hanya dalam satu warna
3. Untuk mereview memerlukan waktu lama
4. Waktu yang diperlukan untuk belajar lebih lama
5. statis 
PETA PIKIRAN
1. berupa tulisan,symbol dan gambar
2. berwarna-warni
3. Untuk mereview memerlukan waktu pendek
4. Waktu yang diperlukan untuk belajar lebih cepat dan efektif
5. Membuat individu lebih kreatif

peta pikiran (mind mapping) adalah satu teknik mencatat yang mengembangkan gaya belajar visual. Peta pikiran memadukan dan mengembangkan potensi kerja otak yang terdapat di dalam diri seseorang. Dengan adanya keterlibatan kedua belahan otak maka kan memudahkan seserorang untuk mengatur dan mengingat segala bentuk informasi, baik secara tertulis maupun secara verbal. Adanya kombinasi warna, simbol, bentuk dan sebagainya memudahkan otak dalam menyerap informasi yang diterima.

Peta pikiran yang dibuat oleh siswa dapat bervariasi setiap hari. Hal ini disebabkan karena berbedanya emosi dan perasaan yang terdapat dalam diri siswa setiap harinya. Suasana menyenangkan yang diperoleh siswa ketika berada di ruang kelas pada saat proses belajar akan mempengaruhi penciptaan peta pikiran.
Tugas guru dalam proses belajar adalah menciptakan suasana yang dapat mendukung kondisi belajar siswa terutama dalam proses pembuatan mind mapping.

Mind mapping sangat baik digunakan untuk pengetahuan awal siswa atau untuk menemukan alternatif jawaban.
Langkah-langkah :
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
2. Guru mengemukakan konsep/permasalahan yang akan ditanggapi oleh siswa dan sebaiknya permasalahan yang mempunyai alternatif jawaban
3. Membentuk kelompok yang anggotanya 2-3 orang
4. Tiap kelompok menginventarisasi/mencatat alternatif jawaban hasil diskusi
5. Tiap kelompok (atau diacak kelompok tertentu) membaca hasil diskusinya dan guru mencatat di papan dan mengelompokkan sesuai kebutuhan guru
6. Dari data-data di papan siswa diminta membuat kesimpulan atau guru memberi perbandingan sesuai konsep yang disediakan guru

Pengaruh Metode Quantum Learning Dengan Teknik Peta Pikiran (Mind Mapping) Terhadap Prestasi Belajar Siswa
Mind mapping atau pemetaan pikiran merupakan salah satu teknik mencatat tinggi. Informasi berupa materi pelajaran yang diterima siswa dapat diingat dengan bantuan catatan. Peta pikiran merupakan bentuk catatan yang tidak monoton karena mind mapping memadukan fungsi kerja otak secara bersamaan dan saling berkaian satu sama lain. Sehngga akan terjadi keseimbangan kerja kedua belahan otak. Otak dapat menerima informasi berupa gambar, simbol, citra, musik dan lain lain yang berhubungan dengan fungsi kerja otak kanan.

Metode pembelajaran kuantum berusaha menggabungkan kedua belahan otak yakni otak kiri yang berhubungan dengan hal yang bersifat logis (seperti belajar) dan otak kanan yang berhubungan dengan keterampilan (aktivitas kreatif).Salah satu teknik mencatat yang dikembangkan dalam metode pembelajaran kuantum adalah teknik pemetaan (mind mapping). Dengan digunakannya mind mapping maka akan terjadi keseimbangan kerja kedua belahan otak. Dengan adanya teknik mind mapping atau pemetaan pikiran diduga prestasi siswa akan meningkat.

Pengaruh metode quantum learning dengan teknik peta pikiran (mind mapping) terhadap kreativitas (sikap kreatif siswa).
Mind mapping dapat menghubungkan ide baru dan unik dengan ide yang sudah ada , sehingga mnimbulkan adanya tindakan spesifik yang dilakukan oleh siswa. dengan penggunaan warna dan simbol –simbol yang menari akan menciptakan suatu hasil pemetaan pikiran yang baru dan berbeda. Pemetaan pikiran merupakan salah satu produk kreatif yang dihasilkan oleh siswa dalam kegiatan belajar. Pemetaan pikiran yang terdapat dalam pembelajaran kuantum adalah salah satu produk kreatif bentuk sederhana yang dapat dikembangkan. Dengan teknik mencatat pemetaan pikiran diduga kreatifitas(sikap kreatif) siswa akan meningkat.

Langkah-langkah pemetaan pikiran
1. Mulailah dari bagian tengah kertas kosong yang sisi panjangnya diletakkan mendatar. Memulai dari tengah member kebebasan kepada sotak untuk menyebar kesegala arah dan untuk mengungkapkan dirinya dengan lebih bebas dan alami.
2. Gunakan gambar atau photo untuk sebagai ide sentral Sebuah gambar bermakna seribu kata dan dapat membantu menggunakan imajinasi.sebuah gambar sentral akan lebih menarik,tetap terfokus dan dapat mengaktifkan otak.
3. Gunakan warna Warna membuat mind map lebih hidup,menambah energy kepada pemikiran kreatif dan menyenangkan.
4. HUBUNGKAN CABANG-CABANG UTAMA kegambar pusat dan hubungkan cabang-cabang tingkat dua atau tiga ketingkat satu dan dua dan seterusnya. Otak bekerja menurut asosiasi.otak senang mengaitkan dua atau tiga bahkan empat hal sekaligus.bila kita menghubungkan cabang-cabang kita lebih mudah mengerti dan mengingat.
5. Buatlah garis yang MELENGKUNG,bukan garis lurus. Garis lurus akan membosankan otak. Cabang-cabang yang melengkung dan organis seperti pohon ,jauh lebih menarik bagi mata.
6. Gunakan SATU KATA KUNCI UNTUK SETIAP GARIS Kata kunci tunggal memberikan lebih banyak daya dan fleksibilitas kepada mind map
7. gunakan GAMBAR Seperti halnya gambar sentral,gambar bermakna seribu kata

Artikel terkait:
»»  Baca selengkapnya...

Sabtu, 05 Desember 2009

bunglon

siapa yang kenal dengan hewan bernama bunglon?
hewan ini dikenal dengan ciri khasnya yang mudah berudah - ubah warna tergantung dimana dia berada. ketika berada di kayu yang berwarna coklat kulitnya pun akan berubah menjadi berwarna coklat, ketika berada di dahan pohon yang berwarna hijau pelan-pelan warnanya pun akan berubah menjadi berwarna hijau...
hewan ini mungkin dalam kehidupan keseharian kita dapat disamakan dengan orang yang tidak mempuyai pendrian atau lebih parahnya lagi dapat didsamakan dengan orang yang tidak punya jati diri. ketika berada di linggungan yang buruk ia akan menjadi buruk namun ketika berada di tempat yang lingkungannya baik ia pun akan menjadi baik...
emang sih ga bisa bidustakan lingkungan banyak membawa pengaruh terhadap kepribadian seseorang, jadi ingat pepata tua yang sering diucapkan oleh guru waktu di SMA dulu, katanya kalo berteman dengan penjual minyak wangi kita minimal kita kan dapat wanginya juga dan kalo kita berteman dengan pandai besi janagan marah kalo kita kena serpihan apinya...
tapi...
ada baiknya dan emang wajib kita punya prinsip hidup ga gampang terbawa arus,mau dilembah atau dipuncak kita tetap jadi diri kita sendiri. tetpa punya katakter, ga gampang berubah kayak bunglon.
eits..bukan berarti kita ga boleh berubah !!!
boleh berubah asal kita tau untuk apa kita berubah dan tentu ja berubah menjadi lebih baik sangant dianjurkan...

ehm...
kasihan juaga si bunglon dari tadi disudutin, insyaallah lain kali kita bakal lihat sisi baik seekor bunglon...
»»  Baca selengkapnya...